Upcoming Activities

Program Residensi Resiprokal Cemeti - Objectifs 2017

Rumah Seni Cemeti dan Objectifs bekerja sama menyelenggarakan sebuah program residensi resiprokal yang melibatkan seniman Indonesia dan seniman Singapura yang berkarya dengan medium film dan/atau fotografi. Dua seniman terpilih dalam program residensi ini, yaitu Agan Harahap yang akan menjalani residensinya selama 4 minggu pada bulan Januari - Februari 2017 di Objectifs (Singapura) dan Kin Chui pada bulan Juni - Juli 2017 di Rumah Seni Cemeti (Yogyakarta).
Agan Harahap (lahir 1980, di Jakarta) memulai karirnya sebagai seorang pelukis dan ilustrator saat ia belajar sebagai mahasiswa desain grafis di STDI di Bandung. Setelah lulus kuliah pada tahun 2005, ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai Digital Imaging Artist di sebuah studio foto komersil. Setahun kemudian, ia bekerja di sebuah majalah musik bernama Trax Magazine sebagai fotografer senior. Agan mulai aktif berkarya sebagai seniman sejak menjadi finalis Indonesian Art Award di tahun 2008 dan memamerkan karyanya di pameran tunggal pertamanya pada tahun 2009 di MES 56 Yogyakarta. Sejak saat itu telah terlibat dalam berbagai pameran di Asia Tenggara, Korea, Jepang, Portugal, Perancis, Kolombia, dan Australia. Karyanya menggabungkan antara fantasi dengan realitas, parodi satir dari kehidupan manusia. 
Kin Chui (lahir 1984, di Singapura) berkarya sebagai sineas dalam berbagai produksi film independen di Singapura dan pernah meraih penghargaan dalam kategori sinematografi terbaik di ajang Singapore Film Awards untuk proyeknya yang berjudul Lucky 7 Project pada tahun 2009. Sejak menempuh pendidikan di the Academy of Fine Arts Vienna, Kin Chui telah terlibat dalam berbagai inisiatif anti-diskriminasi. Ia juga tertarik dengan perjuangan emansipatoris dan pernah menjadi bagian dari sebuah kolaborasi bersama kolektif dari Tunisia yang bernama Ahl Al Kahf dengan menciptakan sebuah platform komunikatif bagi individual yang terlibat dalam Revolusi Sidi Bouzid di Tunisia. Ia tertarik dengan teori dekolonial yang terus-menerus berpengaruh terhadap karyanya.

Rumah Seni Cemeti dan Objectifs bekerja sama menyelenggarakan sebuah program residensi resiprokal yang melibatkan seniman Indonesia dan seniman Singapura yang berkarya dengan medium film dan/atau fotografi. Dua seniman terpilih dalam program residensi ini, yaitu Agan Harahap yang akan menjalani residensinya selama 4 minggu pada bulan Januari - Februari 2017 di Objectifs (Singapura) dan Kin Chui pada bulan Juni - Juli 2017 di Rumah Seni Cemeti (Yogyakarta).

Agan Harahap (lahir 1980, di Jakarta) memulai karirnya sebagai seorang pelukis dan ilustrator saat ia belajar sebagai mahasiswa desain grafis di STDI di Bandung. Setelah lulus kuliah pada tahun 2005, ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai Digital Imaging Artist di sebuah studio foto komersil. Setahun kemudian, ia bekerja di sebuah majalah musik bernama Trax Magazine sebagai fotografer senior. Agan mulai aktif berkarya sebagai seniman sejak menjadi finalis Indonesian Art Award di tahun 2008 dan memamerkan karyanya di pameran tunggal pertamanya pada tahun 2009 di MES 56 Yogyakarta. Sejak saat itu telah terlibat dalam berbagai pameran di Asia Tenggara, Korea, Jepang, Portugal, Perancis, Kolombia, dan Australia. Karyanya menggabungkan antara fantasi dengan realitas, parodi satir dari kehidupan manusia. 

Kin Chui (lahir 1984, di Singapura) berkarya sebagai sineas dalam berbagai produksi film independen di Singapura dan pernah meraih penghargaan dalam kategori sinematografi terbaik di ajang Singapore Film Awards untuk proyeknya yang berjudul Lucky 7 Project pada tahun 2009. Sejak menempuh pendidikan di the Academy of Fine Arts Vienna, Kin Chui telah terlibat dalam berbagai inisiatif anti-diskriminasi. Ia juga tertarik dengan perjuangan emansipatoris dan pernah menjadi bagian dari sebuah kolaborasi bersama kolektif dari Tunisia yang bernama Ahl Al Kahf dengan menciptakan sebuah platform komunikatif bagi individual yang terlibat dalam Revolusi Sidi Bouzid di Tunisia. Ia tertarik dengan teori dekolonial yang terus-menerus berpengaruh terhadap karyanya.