Residensi

Makan Angin

Mulai bulan Maret 2014, Rumah Seni Cemeti memulai program residensi baru yang berjudul ‘Makan Angin’. Melanjutkan program residensi Cemeti sebelumnya, yaitu Landing Soon (2006 -2009) dan HotWave (2010 – 2013), residensi Makan Angin berlangsung mulai tahun 2014 hingga 2015 dan diadakan sebanyak dua periode setiap tahunnya. Tahun ini residensi Makan Angin memfasilitasi tiga orang seniman, masing-masing dari Belanda, New Zealand dan Indonesia untuk menjalani residensi periode pertama pada bulan Maret sampai dengan Mei 2014. Untuk periode kedua, yaitu bulan September sampai dengan November 2014 kami menerima seniman dari Australia, Indonesia dan Taiwan. Program residensi Makan Angin#1 diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti dan didukung oleh Mondriaan Fund (Belanda) dan Asia New Zealand Foundation.

Periode I (1 Maret –  31 Mei 2014) - Makan Angin #1 :
Yaya Sung – Indonesia
Paul Hendrikse - Belanda
Jae Hoon Lee – New Zealand

Periode II (1 September – 30 November 2014) - Makan Angin #2 :
Aditya Novali – Indonesia
Reko Rennie – Australia

Periode III (1 Maret - 31 Mei 2015) - Makan Angin #3 :
Eldwin Pradipta - Indonesia
Lidwien van de Ven - Belanda
Liyen Chong - New Zealand

Selama menjalani program residensi, seniman diberikan kesempatan untuk melakukan riset, eksperimen, membuat karya, dan melakukan kolaborasi. Seniman juga mendapatkan pendampingan dalam melakukan riset dan eksperimen gagasan bersama Rumah Seni Cemeti dan seorang asisten.

Aktivitas residensi terbagi menjadi beberapa tahap. Pada bulan pertama, program residensi berkonsentrasi pada orientasi dan pengenalan kegiatan seni dan budaya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Presentasi kepada publik di Yogyakarta mengenai kegiatan berkarya seniman diselenggarakan dalam format artist talk. Interaksi dengan publik sangat penting untuk menghubungkan seniman dengan komunitas seni di Yogyakarta, selain memberikan kontribusi pada wacana seni untuk publik yang lebih luas.

Bulan kedua adalah masa berkarya bagi seniman residensi. Di bulan yang sama, seniman diharapkan untuk mengadakan lokakarya, diskusi, kuliah umum, atau program edukatif lainnya berdasarkan minat dan keahlian seniman residensi, sebagai bentuk kontribusi kepada lingkungan dan masyarakat lokal. Kegiatan tersebut bisa diadakan di Rumah Seni Cemeti atau organisasi/komunitas/lembaga yang berbeda di Yogyakarta dan luar Yogyakarta misalnya Solo dan Semarang.

Pada minggu terakhir bulan ketiga akan diadakan presentasi akhir dengan format pameran atau bentuk-bentuk presentasi lain sesuai kebutuhan seniman. Presentasi akhir berlangsung selama seminggu dan disertai diskusi terbuka sebagai bagian dari evaluasi program residensi.