Residensi

Landing Soon

Seniman Landing Soon #1 : Angki Purbandono, Lieven Hendricks, Sara Nuytemans, Arya Panjalu

Seniman Landing Soon #1 : Angki Purbandono, Lieven Hendricks, Sara Nuytemans, Arya Panjalu

Landing Soon 2006 - 2009

Selama rentang waktu ‘residensi’ tiga bulan,  perupa Belanda dan Indonesia ‘mendarat’ dan bertemu di Yogyakarta. Dalam ‘LANDING SOON’, lokalitas sebagaimana globalitas dipertanyakan dan diteliti ulang melalui berbagai tema, visi maupun kondisi. Para seniman diberi kesempatan untuk sepenuhnya konsentrasi bekerja, melakukan uji coba dan interaksi sesama seniman, profesional maupun komunitas-komunitas tertentu.

Rumah Seni Cemeti menantang kesempatan kepada seniman Indonesia untuk mengikuti program residensi LANDING SOON yang berlangsung sampai dengan Juli 2009.

Dalam setiap periode, dipilih satu seniman Indonesia dan satu seniman Belanda. Peserta residensi harus bersedia untuk terlibat penuh selama 3 bulan. Fasilitas studio, tempat penginapan, biaya produksi dan biaya hidup selama residensi ditanggung oleh Rumah Seni Cemeti.

LANDING SOON merupakan program kerjasama pertukaran yang diselenggarakan oleh Heden (dulu bernama Artoteek Den Haag) di Belanda dan Rumah Seni Cemeti Yogyakarta. Didukung oleh Program Pengembangan dan Kebudayaan, Kedutaan Belanda di Jakarta.
 
Tentang Program Residensi LANDING SOON

Penjabaran konkrit program residensi Landing Soon dari tahun 2006 secara umum bisa diturunkan menjadi:
a, periode kreativitas  produksi estetik dan  etik gagasan;
b. periode pendampingan atas gerakan seni dan masyarakat ala Yogyakarta;
c. periode mendorong para perupa muda terjun di kancah lalu lintas perbincangan wacanaseni rupa kontemporer dunia.

Studio Residensi Cemeti dilengkapi dengan infrastruktur seorang manajer studio, seorang asisten seniman yang selalu berganti tiap tiga bulan sekali, dan seorang penjaga malam serta pengurus rumah tangga.
Partisipan dibebaskan dari beban akomodasi dan biaya hidup selama 3 bulan. Sebaliknya, para seniman mendapatkan dukungan finansial untuk eksperimentasi gagasan, produksi estetik dan penggadaan semacam katalog. Ruang pameran/presentasi hasil residensi di Rumah Seni Cemeti tersedia selama 1 minggu.

Tiga minggu pertama setelah mendarat dan, melampaui masa perkenalan dan penyesuaian cuaca, para seniman diwajibkan membuat presentasi atas perkembangan karya individu dari kurun waktu 2 hingga 3 tahun ke belakang di hadapan para undangan; seniman-seniman Yogyakarta dengan berbagai disiplin medianya, aktivis seni, penulis kritik, wartawan seni dan sebagainya. Forum ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menetralkan ’referensi curriculum vitae’ masing-masing seniman, sehingga dengan mudah dan cepat bisa bergaul dan berbaur ke dalam lingkungannya, memahami dan mengapresiasi satu terhadap yang lain.

Forum ini sekaligus menjadi saksi bahwa residensi mereka telah dimulai. 4 hingga 6 minggu pertama, para seniman baik individu maupun bersama-sama  merancang bentuk diskusi seputar karya masing-masing dalam forum perkuliahan, seminar, workshop dan pelatihan serta bentuk lain; yang dimaksudkan sebagai program pendampingan seni dan masyarakat (Art and Society). Minggu-minggu yang selebihnya berjalan adalah puncak produksi kerja kreatif dan diskusi pertanggungjawaban kerja.

Seniman terpilih,  banyak mendapatkan asistensi, pendampingan dan dukungan pemantauan oleh manajer studio melalui rapat progres residensi setiap minggu. ’Support’ gagasan dan pencerahan dari nara sumber ahli seperti antropolog, arsitek, geolog, kurator, sosiolog, sampai kepada tokoh-tokoh LSM, seniman tradisional, dalang, pengrawit, pengrajin, artisan, pekerja film dan tukang-tukang ahli lain bisa diatur oleh manajer studio demi mendukung proses kreatif kerja residensi!

 

Residensi Baru 2010

 Evaluasi terhadap program residensi Landing Soon selama tiga tahun ini, mendorong Rumah Seni Cemeti untuk memperkenalkan platform baru yang juga menjadi pendekatan baru, bertolak dari munculnya pertanyaan akan apa peranan Cemeti, secara institusional, di dalam medan sosial seni rupa kontemporer Indonesia di masa mendatang. Aktivitas-aktivitas yang terpendar dari proyek tersebut menginspirasi kami untuk lebih berfokus pada dan mengkonsentrasikan advokasi tentang pengembangan medan seni, secara sosial dan politik.


(Nindityo Adipurnomo, 2010)