Pukul 4 Di Ruang Publik

04 April 2014 - 25 Mei 2014

Agnesia Linda, Hanura Hosea, Nindityo Adipurnama, Tia Pamungkas

{titlei}

“Produksi Ruang Sosial: Mengkonstekstualisasikan Gagasan Henry Lefebvre di Ruang Kota Yogyakarta”

Dalam karyanya ‘The Production of Space’, Lefebvre berpandangan bahwa ada beberapa level dari ruang, dari yang paling abstrak, yang kasat mata, dan ruang yang bersifat alamiah (ruang absolut) menuju suatu unit ‘ruang bersama’ yang lebih kompleks dimana pemaknaan atas ‘ruang bersama’ ini lebih merupakan suatu produksi ‘ruang sosial’ (social space).

Dalam teorinya mengenai ‘The Production of Space’ Lefebvre merujuk pada  konsep ruang sebagai konstruksi sosial yang dibangun berdasarkan nilai dan pemaknaan sehingga pada gilirannya mempengaruhi apa yang berlangsung di dalam praktek ruang dan persepsi orang atas ruang itu sendiri.

Produksi ruang sosial dalam konsepsi Lefebvre kemudian adalah hasil atau produk sosial dimana ‘ruang’ diproduksi melalui mekanisme sehingga menjadi cara berpikir, cara bertindak. Oleh karena itu, produksi ‘ruang sosial’ harus dipahami dalam kerangka relasi ‘kekuasaan’ – dimana setiap orang berusaha untuk menegosiasikan ‘kontrol’ mereka atas posisinya di ‘ruang bersama’. Dengan kata lain, pemahaman relasi sosial di dalam ‘ruang publik’ juga merupakan upaya untuk menelusuri pola-pola dominasi atau kekuasaan yang sedang dan terus berlangsung. Di sisi lain, pengertian ini juga menunjuk pada suatu proses kontinuum dimana ‘ruang publik’ menjadi mekanisme ‘penyeimbang hegemoni’ relasi kekuasaan antar subyek penggunannya sehingga setiap subyek bukan hanya sekedar ‘menawar’ posisi untuk memaksakan kehendaknya, melainkan sekaligus ‘menawar’ posisi untuk bisa ‘diterima’ sebagai kesepakatan ‘bersama’.

Video partisipatif ini terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berupa video narasi berisikan footages dan fragmen-fragmen atas penggunaan ‘ruang publik’ oleh berbagai segmen masyarakat di kota Yogyakarta sepanjang periode 2013-hingga awal 2014. Di dalamnya berisi narasi mengenai ‘konsep dasar’ produksi ruang sosial menurut teori ‘Produksi Ruang Sosial’ oleh sosiolog Henry Lefebvre dengan menunjuk konteks perkembangan kota Yogyakarta. Di dalam presentasi video ini dilengkapi dengan meja belajar – dan kursi, serta kertas berisi permohonan bagi penonton untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada ‘narasumber’ di dalam kuliah melalui video pertama tersebut dan diakumulasikan ke dalam suatu ‘kotak pesan’. Dalam presentasi ini Tia Pamungkas membayangkan suatu ‘keintiman’ di ruang kelas antara dosen dan mahasiswa – sekaligus ‘jarak’ antara dosen dan mahasiswa dimana pertanyaan – pertanyaan diakumulasi dan menjadi pembahasan di dalam ‘lecture talks’ dan materi ‘video berikutnya’. Video presentasi bagian kedua merupakan ‘kesimpulan’ dari aktivitas menonton video pertama, mengajukan pertanyaan ke dalam box, lecture talks dan diskusi ‘live’ di dalamnya. Video kedua menyertakan pula beberapa footages dan fragmen-fragmen yang mewakili pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ‘peserta kuliah’ atau ‘penonton’ yang mengisi lembaran ‘mengajukan pertanyaan’.

(Tia Pamungkas, 2014)

 

BELEPOTAN

Ketika mencebur ke Yogya, tiba-tiba bertemu dengan keriangan dan kesenangan untuk melukis. Keinginan melukis lebih banyak karena tergoda dengan istilah atau kata “lukis/melukis/lukisan”. Jadi bukan media, gaya, bentuk, garis, warna, rupa dari lukisan tersebut yang memberi rangsangan. Istilah / kata ini sering disepadankan dengan kata gambar. Semisal kata melukiskan sepadan dengan kata menggambarkan. Bahkan sering pula berjejer dengan kata cerita,
menceritakan.

Melukis menuntut banyak ketrampilan tangan, termasuk penguasaan media (cat minyak, cat air, kanvas, kertas dll). Butuh ketekunan dan latihan yang sering dicampur dengan kebosanan dan kebengongan. Kesalahan selalu ditampik. Kejelekan tidak akan diterima. Hal-hal tersebut menghapus dan meremukkan rasa suka cita dan keringanan dalam bermain rupa. Lebih menjadi sebuah kerja, kerja dan kerja dengan gairah beku ungu lembam. Kedua sudut bibir jadi selalu terjatuh atau menunjuk kebawah. Rasa mulut jadi seperti mengunyah daun pepaya mentah. Sambil patuh dan tidak khidmat.
Menggambar menjanjikan kedua sudut bibir kembali bisa mengangkat diri dengan suka rela. Jadi ringan, tanpa harus memikul persyaratan di atas. Terasa mudah untuk mengangkat kaki tinggi-tinggi untuk menari riang. Coba bandingkan. Ayo kita menggambar dan ayo kita melukis. Atau ayo kita menginstalasi. Menggambar tampaknya mau lebih berteman dengan kesalahan atapun mengandeng kejelekan. Ia melengking dengan pekik singkat tanpa sandi.

Pelukis adalah pembuat gambar. Sebagai pembuat gambar dia (pelukis) akan membuka juga ruang yang bisa/mampu untuk membiarkan kesalahan hadir. Terampil tanpa sungkan untuk memperlihatan kejelekan. Ini jadi bukan perkara mudah. Justru dia terlanjur punya kemampuan. Pelukis makin terbetot dengan percepatan. Gigil cemas jika tidak seirama dengannya. Jika demikian perlambatan adalah getar langka yang tentram. Itulah ranting dan batuan kecil yang mendirikan bulu kuduk. Kelangkaan yang dibutuhkan.

Lukisan sudah lama dan lengket dengan kesantunan paksa. Rapi nan bersih. Sibuk berdandan untuk mengimbangi denting bersulang gelas anggur. Riuh memucat. Seperti jeruk nipis di ujung lidah. Sayangnya ia cerdas untuk menampung kesinisan terdahadap dirinya. Dia sering diminta paksa untuk memberi makna. Dia didorong-dorong untuk menyorongkan bantal ketika kita mengantuk. Disanjung agar mau mengamini yang kita pahami. Padahal ia lebih suka untuk membentuk makna.

Maaf ada biji kopi jatuh.

(Hanura Hosea, 2014)

 

SuaraDariYangTidakMendengarkan

‘Pukul 4 Di Ruang Publik’ ini merupakan inisiatif seni dan non seni yang  hadir dalam format mengalir diantara pameran seni rupa, pementasan teater dan presentasi kuliah interaktif. Di dalam brosur yang nyaris berbentuk koran ini tidak memuat pengantar kuratorial tertentu, semata-mata untuk menjaga spontanitas dan orisinalitas inisiatif yang langsung kepada penonton. Bersama dengan Hanura, Linda dan Tia, saya memamerkan lukisan-lukisan gouache di atas kertas yang saya kerjakan dengan gaya dan teknik yang sangat akedemik tradisional sebagaimana saya mempelajarinya dari sekolah tinggi ketrampilan seni.
Saya memilih lukisan, dengan bahasa-bahasa ungkap air bersama gouache dan kertas sebagai medium terdekat untuk mengorek dan mengais pengalaman-pengalaman klise saya dan anda penonton sekalian. Karya-karya gouache  di atas kertas seri baru saya ketengahkan, saya pertemukan dengan beberapa karya lama yang saya pilih sendiri secara intuitif. Beberapa cara penampilannya, terlihat selipan-selipan yang menggembol lampiran upaya untuk meminjam medium-medium lain, seperti misalnya mematung, membuat obyek dan fotografi. Namun itu semua masih saya kerjakan dengan kerangka mental berpikir saya dalam medium seni lukis. Lukisan sebagai medium seni yang paling kuno, belum sampai hati ditinggalkan oleh kesenian. Saya pun berkeyakinan bahwa warna gouache dengan air di atas kertas-kertas yang saya persiapkan mampu berbicara dan bercerita menurut caranya sendiri; sebab dengan cara itu, saya demikian pula anda penonton akan mengapresiasi lebih jujur kekuatan medium masing-masing dari Linda, Hanura dan Tia dalam “Pukul 4 Di Ruang Publik” ini.

(Nindityo Adipurnama, 2014)

 

FIKSI YANG MALU-MALU
Agnesia Linda (menggandeng Irfanudien Ghozali & Erson Padapiran)

#1
Bukannya aku tidak menghormati gairahmu, tetapi semakin hari, aku semakin khawatir. Dalam hitungan dua sruputan kopi panas, kamu pun menjelma menjadi Braman tua yang terlalu sibuk mondar-mandir di pagi dan malam hari, mengujicoba ajaran-ajaran misterius. Pap..., aku ini bukan Popi, Human, Bobi ataupun orang-orang pasar. Kamu tidak perlu toa untuk bercerita. Memang benar, aku selalu membutuhkan nikotin ketika berulang kali berusaha menuliskanmu. Tanpa itu, mungkin aku hanya mampu memproduksi kentut di dalam kepala.

Sudahlah....kopi di cangkirmu sudah dingin!

#2
Pop, ada jalan pintas yang bisa kamu tempuh untuk membebaskanmu dari tanggung jawab itu! Terima saja semuanya, dan kamu bisa bepergian meninggalkannya tanpa menganggapnya sebagai beban, seperti ketika kamu ke luar kota dan meninggalkan sebagian bajumu di dalam lemari kamar villa. Apa susahnya?

#3
Kesan eksistensialis tidaklah mengapa pap, rasaku, itu adalah warna-warna yang pasti.  

#4
Ideology and Utopia bikin manisnya tersembunyi. Das Kapital bikin wrak. Schriften zum Theater bikin terlalu weiblich. Semiotika Negativa bikin parau. Pop, bisakah kita minum anggur sebagai pasangan kekasih yang biasa-biasa saja?

#5
Bukannya toa-toa itu sudah ditinggalkan para pemilik suara?

#6
Pap, jangan bilang kalau perempuan di dalam gambarmu itu adalah Shen Te, ketika kamu mengira dirimu adalah Shui Ta. Alterego itu tidak pernah duduk minum kopi berhadap-hadapan denganmu, hal itu hanya terjadi di dalam botol anggurmu.