TOEKAR TAMBAH

19 Februari 2012 - 08 Maret 2012

Mella Jaarsma, Nindityo Adipurnomo

{titlei}

‘Natural’ and ‘Forced’ Assimilation
(Asimilasi Paksa dan Rela)

Majemuk berarti tidak mengasimilasikan penduduk atau warga negara ke dalam satu kesatuan identitas yang baru setelah yang lama dilupakan (G.M.)

Kebudayaan di dalam kerangka besar sejarah peradaban manusia selalu menarik perhatian saya dari waktu ke waktu. Kesenian merupakan bagian integral kecil saja dari wacana maha besar ini; pada saat yang sama saya selalu ingin memposisikan kerja kesenian sebagai cara untuk memahami, mendalami, merenungi dan mengarungi bahtera sejarah kebudayaan dalam kerangka besar : peradaban. Sejarah, menjadi  sangat penting  bagi koordinat pemetaan masa depan kesenian saya! Sejarah politik, ekonomi dan perubahan-perubahan sosial yang menyertainya adalah faktor dominan yang senantiasa menginspirasi berulang-ulang berkembangnya budaya. Begitu pula selanjutnya kesenian, menjadi komentar dan ungkapan yang tak pernah habis dari kesaksian budaya.

Tidak serta merta kerja kesenian saya selalu bisa diasosiasikan dan ditandai secara langsung dengan konsep pencapaian  ‘produksi’ dan ‘industri’ semata-mata! Secara lebih kompleks, akan terlihat dan terasa lebih banyak mengedepankan aspek pembelajaran, pencarian dan penelitian dan seterusnya; dengan, seringnya  mempergunakan ungkapan serta jargon-jargon keras seperti : kritik, provokasi, gugatan dan tidak jarang ironi, tragis dan sebagainya.

Saya lahir dan dibesarkan di Semarang oleh orang tua yang mengaku ke-Jawa-annya dari Surakarta dan Yogyakarta sampai menjelang masa studi saya di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia. Kentalnya atmosfir arsitektural kota lama Semarang yang glamur dengan konsep dan pernyataan estetika Belanda- Jawa- Tionghoa- Peranakan, menghiasi dan merambah masuk lewat multikulturalisasi lingkungan Katolik di dalam model-model pergaulan  keluarga dan lingkungan paroki gereja Gedangan. Hingga tahun 1967, ketika kami harus pindah ke suatu perkampungan baru, yang didirikan merambah ‘Bong’ (kompleks pemakaman warga Tionghoa Peranakan), terkenal kemudian dengan kampung Bongsari, berjarak satu blok bukit kecil tetangga dari megah berdirinya Gedung Batu ‘Sam Poo Kong’ Simongan, klenteng penghormatan terpenting atas berlabuhnya pasukan Cheng Ho di Semarang. Saya ingat betul nikmatnya berbagi kue bakpao putih bundar dan besar yang selalu kami dapatkan dari panitia berduka mengenakan seragam putih-putih pembongkaran ‘Bong’, yang konon ceritanya hendak dipindahkan ke Singapore atas permintaan keluarga kerabat.
Kenangan pergaulan multikultural lewat doktrinasi agama Katolik masa kecil saya sekonyong-konyong terkoyak dalam sekali, ketika sahabat dekat saya dari lingkungan gereja Paroki Bongsari ditembak tentara tahun 1979,  di saat-saat penerapan jam malam tentara dikerahkan tiga hari tiga malam meredam kerusuhan aksi bakar-membakar rumah-rumah warga Tionghoa di Semarang. Konon kerusuhan dipicu oleh pertengkaran sepele di Surakarta. Bapak saya yang lagi gemar latihan memotret, berburu photo-photo aksi brutal pembakaran, dengan menumpang mobil merah pemadam kebakaran! Bapak menghentikan aksi perburuan photo amatirnya setelah warga Katolik gereja Bongsari memaksa beliau  untuk bernegosiasi dengan tentara, guna ijin memutar-mutar rute prosesi keliling kampung pemakaman jenasah sahabat saya yang tertembak di depan pasar Bulu Semarang!

Mei tahun 1998 saat warga Tionghoa di Jakarta, Surakarta kembali mendekam cemas dalam kegamangan hingga ketakutan, klimaks keterasingan etnik di Republik kaya etnik ini; saya kembali merasa tertampar oleh kegalauan yang tidak lucu namun sungguh meresahkan. Beberapa rumah warga Tionghoa di Yogyakarta  terlihat ditutup-tutup rapat, dan selanjutnya mempergunakan benteng perlindungan berupa tulisan : Pribumi Muslim sekenanya. Pembesar Keraton Yogyakarta turun ke pinggiran kota, mengerahkan penutupan jalur masuknya perusuh ke kota ini. Sebagai seorang suami, saya merasa mampu menjamin dan menjaga keamanan hidup istri dan kedua anak perempuan saya. Namun diskusi di antara kami menegang manakala staf Kedutaan Belanda di Jakarta memberi ultimatum terakhir kepada seluruh warga Belanda yang masih tinggal di Indonesia untuk secepatnya memanfaatkan fasilitas evakuasi dari Jakarta atas nama pemerintah Belanda ke negara tetangga, Singapore. Betapapun yakinnya perasaan saya bahwa, tidak akan terjadi suatu apapun terhadap anak-anak dan istri saya di kota asal leluhur Ibu saya ini, dengan perasaan yang tidak lucu, tetap saja saya melepas kepergian mereka bertiga ke Singapore.

Bulan Juli 1998 saat gaduhnya media cetak melaporkan beruntun kerusuhan ras terhadap warga  etnik Tionghoa di hampir semua kota penting di Jawa : Jakarta, Surakarta, Semarang; saya membantu Mella Jaarsma yang sudah kembali, setelah seminggu dilindungi  pemerintah Belanda di negara tetangga Singapore. Kami mulai mempersiapkan kemungkinan  menggelar aksi, gagasan Mella berbentuk  ‘collective performance’ : ’Pribumi - Pribumi’.  Didukung oleh tujuh orang asing yang bermukim di Yogyakarta, kami menggelar warung penggorengan daging  paha katak di depan Gedung Agung Malioboro, dibagikan kepada siapapun pejalan kaki yang berminat mampir mencicipi. Hasil gorengan yang renyah, disajikan dengan bungkus daun pisang dan kertas bergambar tubuh/paha katak dicincang di atas penggorengan, bagian atas kertas bertuliskan : Pribumi-Pribumi. Mella mennyuguhkan cara untuk berkomunikasi membuka dialog mengenai apa yang terjadi dengan warga Tionghoa, dan memutuskan untuk berkarya menggunakan makanan guna memancing pertanyaan dari khalayak luas.. Dia memanfaatkan kaki katak, karena terdapat pada masakan Tionghoa, sementara warga Muslim menyebutnya sebagai makanan haram, menampilkan persepsi budaya yang berbeda.

Dua kerusuhan ras di antara sekian banyaknya kerusuhan-kerusuhan ras menimpa etnik Tionghoa ini sangat menggoda pikiran saya, untuk selalu mempertanyakan kembali produk-produk proses asimilasi budaya khas di Republik kaya etnik ini. Dimanakah terdapat signifikasi perbedaan antara asimilasi yang direkayasa oleh desain politik rejim? (‘assimilation by design’, selanjutnya disebut sebagai asimilasi paksa). Kebijaksanaan politik rejim Soeharto ‘mempercepat’ asimilasi warga Tionghoa di Indonesia adalah contoh produknya; dengan misalnya model asimilasi yang berlangsung tanpa rekayasa politik langsung dari rejim tertentu (selanjutnya disebut sebagai asimilasi rela)? Benarkah orang-orang Cina dari daratan Fujian yang menyebar ke kawasan Asia Tenggara, tidak secara langsung digerakkan oleh kekacauan politik dan ekonomi Cina daratan? Campur tangan kapal-kapal Belanda memasok kaum lelaki dari Cina daratan sebagai buruh pekerja yang ulet dan trampil guna meningkatkan perdagangan VOC di Hindia Belanda, mungkin menjadi pemantik contoh model asimilasi paksa yang lain. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda selebihnya menerapkan politik pecah belah, seperti dicontohkan oleh terjadinya penataan ulang paksa Perkampungan Cina Semarang, yang telah lebih dahulu ‘berintergrasi’ memegang pola perdagangan dengan penduduk lokal. 

Kota Lama Semarang  (di mana proyek seni rupa ini saya dedikasikan),  menjadi bukti arsitektural sejarah ‘devide et empera’;  diteruskan dengan asusmsi berulanganya  terus menerus  pembentukan berbagai macam pola dan genre  baru asimilasi budaya. Warga lokal, warga Arab, Cina dan India (Koja), masih mudahkah dibeda-bedakan?  Bisa jadi proses asimilasi telah berhenti dari perhatian orang. Di masa kecil saya, Kota Lama Semarang bagaikan preparat mediasi berkembangnya dialog multicultural, sekaligus merupakan abstraksi di depan mata sendiri atas bentuk ke-Bineka-an saya sebagai warga Republik kaya etnik ini. Meskipun sejarah asimilasi paksa terus berdaur dan berulang di dalam model-model asimilasi paksa rejim-rejim pemerintahan, bagi saya;  yang tidak sedang melakukan kajian/penelitian sejarah sosial politik, selalu merasa tergoda untuk menggali dan mengungkap sekaligus merayakan kekayaan inspirasi yang terus mengalir bagaikan pendaran refleksi tak beraturan, menyumbang gagasan-gagasan kontemporer pada asimilasi budaya, di tengah-tengah pertanyaan atas perbedaan-perbedaan signifikan antara : ‘Natural’ and ‘Forced’ Assimilation. Dari sanalah karya-karya seni saya pada proyek Peranakan (“Toekar Tambah”) di Galeri Semarang, di dalam kompleks kota tua bersejarah ini berhulu. Hilirnya : marilah kita potong sejarah!

Nindityo Adipurnomo
Yogyakarta 7 Desember 2011