POLA - Patterns of Meaning: Batik and Contemporary Art from Indonesia

14 November 2017 - 28 Februari 2018

Ace House Collective, Cahaya Negeri, Eldwin Pradipta, Restu Ratnaningtyas

{titlei}

POLA – Patterns of Meaning

Batik and Contemporary Art from Indonesia

14 November 2017 – 28 Februari 2018


Sebuah pameran kelompok yang menampilkan:

Ace House Collective

Cahaya Negeri 

Eldwin Pradipta 

Restu Ratnaningtyas 


Dengan partisipasi dari Museum Danar Hadi Surakarta,

dan seniman pendukung: Angki Purbandono, Jim Allen Abel, dan Terra Bajraghosa


Kurator: Mella Jaarsma 

Peneliti: Arham Rahman


Jim Thompson Art Center dan Museum Danar Hadi, Surakarta, dengan bangga mempersembahkan Pameran ‘POLA – Patterns of Meaning’ yang dikuratori oleh Mella Jaarsma, seniman asal Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Pameran ini merupakan persilangan antara Batik tradisi dari Koleksi Museum Danar Hadi dan karya baru yang dibuat oleh seniman kontemporer Indonesia. Pameran ini mengeksplorasi peran penting Batik di dalam sejarah dan identitas kultural Indonesia. Makna Batik telah berubah seiring waktu hingga konotasinya kini berkaitan dengan beragam aspek masyarakat dan budaya Indonesia.

Mella Jaarsma mengungkapkan bahwa “Saat kita melihat perkembangan batik di Indonesia, kita menyadari bahwa Batik merefleksikan perubahan dan alih budaya, dan di saat yang bersamaan juga menyumbangkan dan berkaitan dengan kebijakan politik dan ekonomi. Sekarang, jika kita pergi ke pasar untuk membeli Batik, kita akan menemukan gunungan sablonan di atas kain katun dengan motif Batik untuk memenuhi permintaan tren batik dengan produksi massal yang murah. Saat kita berbicara tentang Batik, apakah kita sedang membicarakan tentang aspek teknis dari aplikasi lilin dan teknik celup dalam sebuah kain tenun? Atau apakah kita sedang membicarakan tentang bermacam pola dan motif Batik? Ada bermacam pengertian dan pemaknaan untuk memilah-milah pembicaraan tersebut seiring kita mencoba memahami makna batik dalam konteks kulturalnya.”

Sebagian koleksi bersejarah dari Museum Danar Hadi di Surakarta telah dipilih untuk ditampilkan dalam pameran ini sebagai upaya merefleksikan berbagai aspek dari:

• Batik sebagai Identitas

• Pengaruh Lingkungan dan Pengaruh Asing

• Gender

• Perkembangan Politik

• Batik sebagai sebuah Komoditas

Koleksi Batik tersebut akan ditampilkan bersama dengan materi-materi arsip dan sejumlah karya seni yang terkait oleh seniman kontemporer dari Indonesia, dan kami bangga mengumumkan para seniman berikut ini yang terlibat dalam Pameran Pola:

Fervent Base, merupakan sebuah instalasi patung yang menggunakan mesin pancuran coklat, lilin batik, parafin, teknik besi, dengan sebuah instalasi video kanal tunggal yang diciptakan oleh kolektif seniman Ace House Collective. Karya ini menelusuri proses manufaktur Batik pada saat ini yang membuatnya secara umum dikenali sebagai motif dan karakteristiknya, dan bukan lagi metode produksi tradisional.

Significant Scenarios merupakan sebuah instalasi Batik di atas kain katun yang diciptakan oleh kelompok seniman Cahaya Negeri. Kami menemukan sebuah perbedaan yang signifikan antara ornamen dan motif di dalam Batik tersebut. Seperti yang kami pahami, ornamen merupakan rancangan Batik yang tidak merujuk pada narasi apapun. Ada rancangan Batik yang “tanpa makna” dan secara umum digunakan untuk dekorasi. Tetapi ada juga rancangan yang mengandung konteks kultural dan bersejarah dengan makna yang menubuh di dalam rancangan serta mengatur protokol, konteks, dan sejarah sosial. Penonton diundang untuk memasuki sebuah struktur Batik yang menyerupai labirin. Meskipun Batik biasanya dipakai saat memasuki labirin Batik, penonton akan dikelilingi oleh bermacam sensasi dari motif-motif visual baru yang komposisinya terdiri atas ornamentasi, aroma, permainan cahaya, dan penyamarataan gimmicks yang melibatkan gestur dan postur pemirsa. Penonton menjumpai beragam fasad motif dan bayangan dari tubuh mereka yang akan menyatu dengan seluruh skenario.

Regrowing: Hierarchy, Cotton, Indigo, Synthetic Color, and Tapioca merupakan sebuah karya tunggal yang diciptakan oleh seniman Restu Ratnaningtyas. Karya ini berdasarkan ketertarikannya terhadap posisi perempuan di dalam industri Batik yang tidak hanya terbatas pada peran mereka sebagai pekerja saja (yang biasanya mengaplikasikan lilin di atas kain), melainkan juga sebagai “lokomotif” yang mengemudikan industri rumah tangga batik. Karya ini berupaya untuk menerjemahkan konsep tersebut dan barangkali, secara keseluruhan bermaksud untuk mendorong kita untuk mempertanyakan model-model relasi gender dalam praktik kultural lainnya yang cenderung menempatkan perempuan dalam peran subordinat.

Karya tunggal terakhir adalah Shadow Stamp/Tjap Bayang. Karya ini diciptakan oleh seniman Eldwin Pradipta dan terdiri atas tiga video yang diproyeksikan melalui cap tembaga Batik. Karya ini tumbuh dari dua karya terdahulu mengenai komodifikasi budaya dan sejarah kota Bandung sebagai sebuah kota dengan warisan kolonial. Dengan demikian, karya ini meninjau ulang posisi Batik di Bandung sebagai komoditas dan sebagai elemen dari identitas lokal. Batik merupakan salah satu tradisi kultural dan diilhami oleh nilai-nilai filosofis. Meski demikian, karena perkembangan subsekuen sepanjang tahun, nilai-nilai tradisional yang pada awalnya menubuh di dalam Batik telah kehilangan artinya. Karya ini merupakan sebuah perayaan menampilkan motif Batik kontemporer yang tidak diilhami oleh filosofi tradisional dan tidak memiliki ikatan dengan nilai-nilai sosial kolektif.

Pameran ini terlaksana atas dukungan dari James H.W. Thompson Foundation, Jim Thompson Thai Silk Company berkolaborasi dengan Museum Danar Hadi, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, dan Lotus de Vivre, DC Collection, Bangkok.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: 

The Jim Thompson Art Center

6 Rama 1 Rd Wang Mai, Khet Pathum Wan, Krung Thep Maha Nakhon 10330, Thailand

Email: artcenter@jimthompsonhouse.com

Facebook: the Jim Thompson Art Center

Website: www.jimthompsonartcenter.org


POLA – Patterns of Meaning
Batik and Contemporary Art from Indonesia
14 November 2017 – 28 Februari 2018
Sebuah pameran kelompok yang menampilkan:
Ace House Collective
Cahaya Negeri 
Eldwin Pradipta 
Restu Ratnaningtyas 
Dengan partisipasi dari Museum Danar Hadi Surakarta,
dan seniman pendukung: Angki Purbandono, Jim Allen Abel, dan Terra Bajraghosa
Kurator: Mella Jaarsma 
Peneliti: Arham Rahman
Jim Thompson Art Center dan Museum Danar Hadi, Surakarta, dengan bangga mempersembahkan Pameran ‘POLA – Patterns of Meaning’ yang dikuratori oleh Mella Jaarsma, seniman asal Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Pameran ini merupakan persilangan antara Batik tradisi dari Koleksi Museum Danar Hadi dan karya baru yang dibuat oleh seniman kontemporer Indonesia. Pameran ini mengeksplorasi peran penting Batik di dalam sejarah dan identitas kultural Indonesia. Makna Batik telah berubah seiring waktu hingga konotasinya kini berkaitan dengan beragam aspek masyarakat dan budaya Indonesia.
Mella Jaarsma mengungkapkan bahwa “Saat kita melihat perkembangan batik di Indonesia, kita menyadari bahwa Batik merefleksikan perubahan dan alih budaya, dan di saat yang bersamaan juga menyumbangkan dan berkaitan dengan kebijakan politik dan ekonomi. Sekarang, jika kita pergi ke pasar untuk membeli Batik, kita akan menemukan gunungan sablonan di atas kain katun dengan motif Batik untuk memenuhi permintaan tren batik dengan produksi massal yang murah. Saat kita berbicara tentang Batik, apakah kita sedang membicarakan tentang aspek teknis dari aplikasi lilin dan teknik celup dalam sebuah kain tenun? Atau apakah kita sedang membicarakan tentang bermacam pola dan motif Batik? Ada bermacam pengertian dan pemaknaan untuk memilah-milah pembicaraan tersebut seiring kita mencoba memahami makna batik dalam konteks kulturalnya.”
Sebagian koleksi bersejarah dari Museum Danar Hadi di Surakarta telah dipilih untuk ditampilkan dalam pameran ini sebagai upaya merefleksikan berbagai aspek dari:
• Batik sebagai Identitas
• Pengaruh Lingkungan dan Pengaruh Asing
• Gender
• Perkembangan Politik
• Batik sebagai sebuah Komoditas
Koleksi Batik tersebut akan ditampilkan bersama dengan materi-materi arsip dan sejumlah karya seni yang terkait oleh seniman kontemporer dari Indonesia, dan kami bangga mengumumkan para seniman berikut ini yang terlibat dalam Pameran Pola:
Fervent Base, merupakan sebuah instalasi patung yang menggunakan mesin pancuran coklat, lilin batik, parafin, teknik besi, dengan sebuah instalasi video kanal tunggal yang diciptakan oleh kolektif seniman Ace House Collective. Karya ini menelusuri proses manufaktur Batik pada saat ini yang membuatnya secara umum dikenali sebagai motif dan karakteristiknya, dan bukan lagi metode produksi tradisional.
Significant Scenarios merupakan sebuah instalasi Batik di atas kain katun yang diciptakan oleh kelompok seniman Cahaya Negeri. Kami menemukan sebuah perbedaan yang signifikan antara ornamen dan motif di dalam Batik tersebut. Seperti yang kami pahami, ornamen merupakan rancangan Batik yang tidak merujuk pada narasi apapun. Ada rancangan Batik yang “tanpa makna” dan secara umum digunakan untuk dekorasi. Tetapi ada juga rancangan yang mengandung konteks kultural dan bersejarah dengan makna yang menubuh di dalam rancangan serta mengatur protokol, konteks, dan sejarah sosial. Penonton diundang untuk memasuki sebuah struktur Batik yang menyerupai labirin. Meskipun Batik biasanya dipakai saat memasuki labirin Batik, penonton akan dikelilingi oleh bermacam sensasi dari motif-motif visual baru yang komposisinya terdiri atas ornamentasi, aroma, permainan cahaya, dan penyamarataan gimmicks yang melibatkan gestur dan postur pemirsa. Penonton menjumpai beragam fasad motif dan bayangan dari tubuh mereka yang akan menyatu dengan seluruh skenario.
Regrowing: Hierarchy, Cotton, Indigo, Synthetic Color, and Tapioca merupakan sebuah karya tunggal yang diciptakan oleh seniman Restu Ratnaningtyas. Karya ini berdasarkan ketertarikannya terhadap posisi perempuan di dalam industri Batik yang tidak hanya terbatas pada peran mereka sebagai pekerja saja (yang biasanya mengaplikasikan lilin di atas kain), melainkan juga sebagai “lokomotif” yang mengemudikan industri rumah tangga batik. Karya ini berupaya untuk menerjemahkan konsep tersebut dan barangkali, secara keseluruhan bermaksud untuk mendorong kita untuk mempertanyakan model-model relasi gender dalam praktik kultural lainnya yang cenderung menempatkan perempuan dalam peran subordinat.
Karya tunggal terakhir adalah Shadow Stamp/Tjap Bayang. Karya ini diciptakan oleh seniman Eldwin Pradipta dan terdiri atas tiga video yang diproyeksikan melalui cap tembaga Batik. Karya ini tumbuh dari dua karya terdahulu mengenai komodifikasi budaya dan sejarah kota Bandung sebagai sebuah kota dengan warisan kolonial. Dengan demikian, karya ini meninjau ulang posisi Batik di Bandung sebagai komoditas dan sebagai elemen dari identitas lokal. Batik merupakan salah satu tradisi kultural dan diilhami oleh nilai-nilai filosofis. Meski demikian, karena perkembangan subsekuen sepanjang tahun, nilai-nilai tradisional yang pada awalnya menubuh di dalam Batik telah kehilangan artinya. Karya ini merupakan sebuah perayaan menampilkan motif Batik kontemporer yang tidak diilhami oleh filosofi tradisional dan tidak memiliki ikatan dengan nilai-nilai sosial kolektif.
Pameran ini terlaksana atas dukungan dari James H.W. Thompson Foundation, Jim Thompson Thai Silk Company berkolaborasi dengan Museum Danar Hadi, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, dan Lotus de Vivre, DC Collection, Bangkok.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: 
The Jim Thompson Art Center
6 Rama 1 Rd Wang Mai, Khet Pathum Wan, Krung Thep Maha Nakhon 10330, Thailand
Email: artcenter@jimthompsonhouse.com
Facebook: the Jim Thompson Art Center
Website: www.jimthompsonartcenter.org


POLA – Patterns of Meaning

Batik and Contemporary Art from Indonesia

14 November 2017 – 28 Februari 2018

Sebuah pameran kelompok yang menampilkan:

Ace House Collective

Cahaya Negeri 

Eldwin Pradipta 

Restu Ratnaningtyas 

Dengan partisipasi dari Museum Danar Hadi Surakarta,dan seniman pendukung: Angki Purbandono, Jim Allen Abel, dan Terra Bajraghosa
Kurator: Mella Jaarsma Peneliti: Arham Rahman
Jim Thompson Art Center dan Museum Danar Hadi, Surakarta, dengan bangga mempersembahkan Pameran ‘POLA – Patterns of Meaning’ yang dikuratori oleh Mella Jaarsma, seniman asal Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Pameran ini merupakan persilangan antara Batik tradisi dari Koleksi Museum Danar Hadi dan karya baru yang dibuat oleh seniman kontemporer Indonesia. Pameran ini mengeksplorasi peran penting Batik di dalam sejarah dan identitas kultural Indonesia. Makna Batik telah berubah seiring waktu hingga konotasinya kini berkaitan dengan beragam aspek masyarakat dan budaya Indonesia.
Mella Jaarsma mengungkapkan bahwa “Saat kita melihat perkembangan batik di Indonesia, kita menyadari bahwa Batik merefleksikan perubahan dan alih budaya, dan di saat yang bersamaan juga menyumbangkan dan berkaitan dengan kebijakan politik dan ekonomi. Sekarang, jika kita pergi ke pasar untuk membeli Batik, kita akan menemukan gunungan sablonan di atas kain katun dengan motif Batik untuk memenuhi permintaan tren batik dengan produksi massal yang murah. Saat kita berbicara tentang Batik, apakah kita sedang membicarakan tentang aspek teknis dari aplikasi lilin dan teknik celup dalam sebuah kain tenun? Atau apakah kita sedang membicarakan tentang bermacam pola dan motif Batik? Ada bermacam pengertian dan pemaknaan untuk memilah-milah pembicaraan tersebut seiring kita mencoba memahami makna batik dalam konteks kulturalnya.”
Sebagian koleksi bersejarah dari Museum Danar Hadi di Surakarta telah dipilih untuk ditampilkan dalam pameran ini sebagai upaya merefleksikan berbagai aspek dari:• Batik sebagai Identitas• Pengaruh Lingkungan dan Pengaruh Asing• Gender• Perkembangan Politik• Batik sebagai sebuah Komoditas
Koleksi Batik tersebut akan ditampilkan bersama dengan materi-materi arsip dan sejumlah karya seni yang terkait oleh seniman kontemporer dari Indonesia, dan kami bangga mengumumkan para seniman berikut ini yang terlibat dalam Pameran Pola:
Fervent Base, merupakan sebuah instalasi patung yang menggunakan mesin pancuran coklat, lilin batik, parafin, teknik besi, dengan sebuah instalasi video kanal tunggal yang diciptakan oleh kolektif seniman Ace House Collective. Karya ini menelusuri proses manufaktur Batik pada saat ini yang membuatnya secara umum dikenali sebagai motif dan karakteristiknya, dan bukan lagi metode produksi tradisional.
Significant Scenarios merupakan sebuah instalasi Batik di atas kain katun yang diciptakan oleh kelompok seniman Cahaya Negeri. Kami menemukan sebuah perbedaan yang signifikan antara ornamen dan motif di dalam Batik tersebut. Seperti yang kami pahami, ornamen merupakan rancangan Batik yang tidak merujuk pada narasi apapun. Ada rancangan Batik yang “tanpa makna” dan secara umum digunakan untuk dekorasi. Tetapi ada juga rancangan yang mengandung konteks kultural dan bersejarah dengan makna yang menubuh di dalam rancangan serta mengatur protokol, konteks, dan sejarah sosial. Penonton diundang untuk memasuki sebuah struktur Batik yang menyerupai labirin. Meskipun Batik biasanya dipakai saat memasuki labirin Batik, penonton akan dikelilingi oleh bermacam sensasi dari motif-motif visual baru yang komposisinya terdiri atas ornamentasi, aroma, permainan cahaya, dan penyamarataan gimmicks yang melibatkan gestur dan postur pemirsa. Penonton menjumpai beragam fasad motif dan bayangan dari tubuh mereka yang akan menyatu dengan seluruh skenario.
Regrowing: Hierarchy, Cotton, Indigo, Synthetic Color, and Tapioca merupakan sebuah karya tunggal yang diciptakan oleh seniman Restu Ratnaningtyas. Karya ini berdasarkan ketertarikannya terhadap posisi perempuan di dalam industri Batik yang tidak hanya terbatas pada peran mereka sebagai pekerja saja (yang biasanya mengaplikasikan lilin di atas kain), melainkan juga sebagai “lokomotif” yang mengemudikan industri rumah tangga batik. Karya ini berupaya untuk menerjemahkan konsep tersebut dan barangkali, secara keseluruhan bermaksud untuk mendorong kita untuk mempertanyakan model-model relasi gender dalam praktik kultural lainnya yang cenderung menempatkan perempuan dalam peran subordinat.
Karya tunggal terakhir adalah Shadow Stamp/Tjap Bayang. Karya ini diciptakan oleh seniman Eldwin Pradipta dan terdiri atas tiga video yang diproyeksikan melalui cap tembaga Batik. Karya ini tumbuh dari dua karya terdahulu mengenai komodifikasi budaya dan sejarah kota Bandung sebagai sebuah kota dengan warisan kolonial. Dengan demikian, karya ini meninjau ulang posisi Batik di Bandung sebagai komoditas dan sebagai elemen dari identitas lokal. Batik merupakan salah satu tradisi kultural dan diilhami oleh nilai-nilai filosofis. Meski demikian, karena perkembangan subsekuen sepanjang tahun, nilai-nilai tradisional yang pada awalnya menubuh di dalam Batik telah kehilangan artinya. Karya ini merupakan sebuah perayaan menampilkan motif Batik kontemporer yang tidak diilhami oleh filosofi tradisional dan tidak memiliki ikatan dengan nilai-nilai sosial kolektif.
Pameran ini terlaksana atas dukungan dari James H.W. Thompson Foundation, Jim Thompson Thai Silk Company berkolaborasi dengan Museum Danar Hadi, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta, dan Lotus de Vivre, DC Collection, Bangkok.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: 
The Jim Thompson Art Center6 Rama 1 Rd Wang Mai, Khet Pathum Wan, Krung Thep Maha Nakhon 10330, ThailandEmail: artcenter@jimthompsonhouse.comFacebook: the Jim Thompson Art CenterWebsite: www.jimthompsonartcenter.org