Pameran

e_Tempe (Fukutake House - Asia Art Platform 2016)

18 Juli 2016 - 04 September 2016

Maryanto in collaboration with Rulyani Isfihana

{titlei}

The ‘Deadly’ Excotic Food: e_Tempe merupakan sebuah proyek seni yang diberangkatkan dari narasi personal Maryanto atas cerita ayahnya mengenai tragedi keluarganya di masa silam. Semasa kecil, ayah Maryanto dan 4 saudaranya menemukan kedua orang tuanya meninggal karena keracunan ‘Tempe Bongkrek’ yang mereka produksi sendiri. Tragedi industri rumah tangga pembuat ‘Tempe’ semacam itu juga pernah dikisahkan oleh Admad Tohari di karyanya ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ dalam latar waktu dan tempat yang hampir-hampir sama dengan tragedi keluarga Maryanto. Hal tersebut mencerminkan situasi krisis pangan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, khususnya Banyumas di era awal kemerdekaan. Situasi sosial dan politik yang serba carut marut pada masa itu membuat inisiatif lokal untuk membangun sumber pangan, sama sekali tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Maryanto memang tidak menyaksikan tragedi tersebut secara langsung, tetapi kisah yang dituturkan oleh ayahnya membekas kuat pada dirinya. Meskipun kini Tempe telah bertransformasi menjadi sumber protein dengan jaminan keamanan kesehatan, kisah tragedi dari sang ayah masih saja hadir ketika ia mengecap rasa dan aroma Tempe di kesehariannya. Pada diri Maryanto, Tempe memberikan kenikmatan kecapan lidah sekaligus kepiluan sejarah keluarga.

Peristiwa produksi dan konsumsi tempe, beserta dengan segala macam realita di sekitarnya pada masa-masa sekarang ini, menempatkan Tempe sebagai ‘sub-culture’ di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Fenomena Tempe sebagai ‘sub-culture’ itulah yang menjadi fokus kajian baik bagi seniman maupun kurator proyek seni The ‘Deadly’ Excotic Food: e_Tempe. Proyek seni ini bukan hanya menyoal aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga menyoroti manuver politik, dan perubahan budaya pangan terkait dengan Tempe di dalam tegangan kontestasinya dengan pasar pangan global. Seni memang tak lagi dipercaya sebagai media terapi, tetapi diyakini dapat menghadirkan inspirasi untuk membangun persepsi dan sejarah baru. Oleh karena itulah, Maryanto menggandeng Rulyani Isfihana, seorang seniman seni pertunjukan dan ahli kuliner masakan Nusantara untuk saling bertukar pengalaman dan pandangan atas Tempe. Bersama dengan Rumah Seni Cemeti, keduanya mencoba memaknai dan membuat narasi sejarah baru bagi Tempe di masa lalu dan sekarang. Maryanto dan Rulyani Isfihana mengeksplorasi berbagai macam kemungkinan bentuk medium (video dokumenter, batik, instalasi, pertunjukan, dan aneka bentuk olahan Tempe), untuk membangun ulang ruang kelas Fukuda (venue pameran) ke dalam bentuk Cafetaria yang menyajikan aneka dongeng dan pengalaman indrawi tentang Tempe secara performatif dan interaktif.

foto: Courtesy Suishoyama Photo Club