Proyek

Kolektif Kolegial

05 April 2016 - 23 Juni 2016

Agan Harahap, Redi Murti, Maharani Mancanegara,Muhammad Akbar

{titlei}

Mereka-reka
Sekira akhir Desember tahun lalu, saya dihubungi oleh Nindityo Adipurnomo dan Agnesia Linda untuk membuat sebuah proyek di Rumah Seni Cemeti. Saat itu saya sama sekali belum punya bayangan soal apa yang akan saya kerjakan. Setelah beberapa kali bertemu dan ngobrol–termasuk dengan Mella Jaarsma–saya baru bisa mereka-reka apa kiranya yang akan saya tawarkan untuk proyek ini. Poin terpentingnya, saya tidak memposisikan diri sebagai kurator, tetapi peneliti yang menjadi mitra kerja atau kolaborator bagi seniman yang terlibat. Karena itu juga, tidak ada isu spesifik yang saya bawa dan tawarkan kepada para seniman yang menjadi mitra kerja saya.

Kolaborasi antara peneliti dan seniman bukan sesuatu yang baru di Cemeti. Itu juga sempat membuat saya agak khawatir; jangan-jangan proyek ini nantinya tidak berbeda dengan proyek “Dobrak!” yang pernah dikerjakan di ruang ini sebelumnya. Namun, dalam sebuah obrolan antara saya, Mella, Nindityo, dan Linda, ada potensi lain yang kiranya tampak dari ancang-ancang proyek ini sekaligus membedakannya dengan “Dobrak!”. Dalam “Dobrak!”, seniman merespon hasil penelitian dari kolaboratornya (peneliti), sedang proyek ini tidak. Barangkali kesan yang tampak justru sebaliknya, peneliti yang “merespon” praktik artistik serta isu-isu yang digelisahkan seniman.

Namun dalam perjalanannya, saya merasa bahwa simpulan dari obrolan kami itu juga belum cukup memuaskan. Sekadar membuat proyek yang seolah-olah menjadi antidote bagi “Dobrak!” tampaknya kurang greget. Pada titik itu saya mulai membayangkan sebuah metode kerja bersama yang lebih dialogis, dimana sebagai peneliti saya bisa mendapat sesuatu dari seniman yang terlibat dan juga sebaliknya, seniman bisa memperoleh sesuatu dari saya. Itulah yang mula-mula saya bayangkan, menuangkannya dalam sebuah narasi singkat yang diberi tajuk “Menyoal Kekinian” sebelum akhirnya ditawarkan kepada empat orang seniman. Keempatnya adalah Redi Murti asal Surabaya, M. Akbar dan Maharani Mancanagara dari Bandung, serta Agan Harahap yang saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

Saya mengakui narasi singkat yang saya buat masih terlalu abstrak dan dikerjakan dengan perasaan canggung. Pada akhirnya, saat berkesempatan mengunjungi studio masing-masing seniman, beberapa asumsi dalam narasi itu saya abaikan sama-sekali. Saya hanya mengambil beberapa bagian kecil, terutama soal pola kerja yang saya tawarkan. Dari obrolan dengan masing-masing seniman, saya bisa menambal beberapa kekurangan dari apa yang awalnya saya bayangkan dalam narasi itu. Kekhasan proses kerja dari keempat seniman tersebut membuat saya berpikir ulang untuk menggunakan pendekatan yang seragam. Saya merasa, untuk bisa memahami apa yang dipikirkan dan dipraktikkan keempatnya, mesti dilakukan dengan pendekatan yang sama sekali berbeda.

Saya hanya membawa sedikit bekal pertanyaan saat berkunjung ke studio masing-masing seniman. Dan itu justru memberi banyak kemungkinan bagi saya untuk mengeksplorasi pertanyaan lain yang tidak bisa saya bayangkan sebelumnya. Pertama-tama, saya berkunjung ke studio Redi Murti di Surabaya. Saya sudah mengenal Redi sejak tiga tahun lalu. Meski begitu, sangat sedikit yang saya ketahui soal praktik artistiknya selama ini. Saya juga tahu bahwa Redi punya kegemaran mengoleksi komik-komik Lekra, tetapi baru tahu persis kalau Wen Peor lah yang paling dia gemari dan sangat mempengaruhi gaya komik-komik grafisnya. Begitupun corak goresan pada karya-karya grafis maupun lukisnya, yang rupanya dia “adopsi” dari “gaya goresan” gambar pada sampul-sampul majalah dan buku-buku lawas China.

Sejauh ini, ada tiga isu pokok yang kerap direspon oleh Redi; tanah, 65, dan China. Dari ketiga isu itu, saya baru sempat mengulik ketertarikannya pada isu tanah dan 65. Dan dari kedua isu itu, untuk proyek ini, tampaknya Redi lebih tertarik mengembangkan eksplorasinya pada isu tanah. Redi mulai berminat pada isu tanah sejak bergabung dengan “Milisi Fotocopy”. Tanah juga menjadi persoalan pokok yang dia eksplorasi dalam tesisnya saat menempuh pendidikan magister di Pasca-sarjana ISI Yogyakarta–merespon kasus Tambak Bayan di Surabaya. Barangkali Redi tidak melakukan “advokasi langsung” dengan motif seni, tapi lewat aktivitasnya bersama Milisi Fotocopy–terkait proyeknya di Tambak Bayan–Redi mengaku berkepentingan menjaga memori anak-anak muda soal sejarah kampungnya dalam kaitannya dengan masalah penggusuran yang tengah mereka hadapi. Dari obrolan itulah pembicaraan kami mengrucut ke isu “Surat Ijo”, salah satu fondasi masalah pertanahan di Surabaya. Bukan hanya Tambak Bayan, melainkan juga kawasan lain di tengah-tengah kota, termasuk rumah keluarga Redi sendiri. Warga yang tinggal di atas lahan berstatus Surat Ijo tidak punya hak kepemilikan atas tanah, sekadar hak pakai, sebab lahan itu diklaim milik Pemerintah Kota. Meski Redi sudah mengetahui soal Surat Ijo dari ayahnya sejak duduk di bangku SMP, dia mengaku baru benar-benar menyadari potensi bahayanya saat kuliah. Isu itulah yang hendak dia soroti dalam proyek ini. Untuk sementara ini Redi mengaku akan memulai bekerja dengan metode yang selama ini dia lakukan sembari menimbang-nimbang potensi metode kerja lain yang mungkin bisa kami pikirkan bersama.

Tidak jauh berbeda dengan Redi, Maharani Mancanagara juga tampak tertarik untuk mengembangkan isu yang selama ini dia tekuni; sejarah pendidikan dan memori tentang kakeknya. Mulanya saya tidak punya pengetahuan yang memadai soal keterkaitan dua kata itu, sebab pertemuan saya dengan Maharani di Bandung adalah yang kali pertama. Saya datang hanya dengan bekal informasi soal praktik artistiknya dari portofolio serta ulasan-ulasan di internet, termasuk jurnal yang dia tulis sendiri untuk kelengkapan penyelesaian studinya di ITB. Rani berbicara banyak soal sejarah pendidikan, terkhusus di masa politik etis, dan kaitannya dengan kakeknya sendiri. Rani membaca sejarah pendidikan Indonesia dari pengalaman kakeknya mendirikan sekolah rakyat dan dicap sekolah liar oleh pemerintah kolonial.

Rani tidak punya memori langsung perihal kakeknya, tetapi punya bertumpuk bahan berupa catatan harian kakeknya dari tahun 1930an hingga 1980an. Di samping itu, cerita-cerita soal kakeknya yang seorang pembelajar itu selalu muncul dalam obrolan-obrolan keluarga besarnya. Sumber-sumber itulah yang dia telisik, berkenalan secara intim dengan sang kakek yang tak pernah dia temui, lalu menjadi bahan baku utama dalam proses kreatifnya. Dari tugas akhir kuliah hingga berbagai proyek yang dia ikuti, isu itu diangkat secara konsisten. Alasannya, masih terlalu banyak hal yang dia rasa perlu dieksplorasi dari tumpukan catatan harian itu, bukan semata pertautannya dengan sejarah pendidikan, melainkan juga detail-detail penting yang tak terduga. Seperti misalnya saat dia tidak menemukan nama neneknya dituliskan satu kali pun dalam catatan-catatan harian sang kakek. Temuan itu cukup menggoda, tetapi tampaknya–termasuk ancang-ancangnya untuk proyek ini–Rani masih bergairah pada isu besar yang selama ini dia ulik; sejarah pendidikan Indonesia.

Dari pertemuan saya dengan Rani dan Redi, secara tidak sengaja saya menemukan keterkaitan “sejarah keluarga” di antara keduanya. Baik kakek dari Rani maupun kakek dari Redi, sama-sama menjadi korban peristiwa 65 dan tahun-tahun setelahnya. Kakek dari Rani adalah seorang eks-tapol, dipenjara bertahun-tahun dengan tuduhan komunis dan loyalis Soekarno. Adapun kakek dari Redi, tidak hanya diciduk, tetapi juga tidak diketemukan makamnya hingga kini. Yang lebih menarik, baik keluarga Rani maupun keluarga Redi, “berhasil lolos” dari “diskriminasi negara terhadap anak-cucu orang-orang komunis”. Kesamaan itu cukup menggugah, hanya saja belum sanggup saya uraikan panjang lebar, terlebih melacak ada-tidaknya kaitan antara peristiwa itu dengan praktik artistik mereka selama ini.

Bila Rani dan Redi cenderung memulai dari isu spesifik maka saya merasakan pengalaman berbeda saat bersua M. Akbar dan Agan Harahap. Seperti Rani, saya juga baru kali pertama bertemu dengan Akbar dan hanya mengenalnya dari karya-karyanya. Sejak awal Akbar dikenal sebagai seniman yang bekerja dengan medium video. Akbar lebih senang bermain-main dengan mediumnya, utak-atik dan pembauran gambar hingga eksplorasi berbagai teknik yang memunculkan kesan visual tertentu ketimbang barmain pada isu. Namun itu tidak berarti Akbar abai pada isu. Isu yang dikemas lebih condong pada problem keseharian, seringkali sangat spontan dan personal.

Seperti misalnya dalam karyanya, “The Trip”. Dalam video itu Akbar mengeksploitasi organ mata, merekam apa yang dilihat dalam aktivitas berkendara. Saat hendak mengendarai motor, tubuh kita seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan; mengenakan helm, naik di atas motor, menyalakanya dst. Video itu tampaknya mengilustrasikan semacam savoir faire atau pengetahuan yang “know-how” dalam terminologi psikoanalisa, jenis pengetahuan di luar kepala yang sudah otomatis diketahui atau yang melekat pada tubuh. Karyanya yang lain, “The Frames”, sekumpulan frame foto (tempat sampah di Bandung) yang disusun dalam sebuah rangkaian video berdurasi. Bila pada karya yang disebut pertama berangkat dari refleksi Akbar soal pengalamannya berkendara, gagasan “The Frames” ditemukan secara spontan, dari apa yang dia saksikan di sekitarnya.

Kecenderungan serupa juga tampak dari praktik yang dilakukan Agan Harahap, lebih spontan. Bedanya Agan memulai dengan membuat sebuah cerita fiktif bernuansa populer terlebih dahulu, entah itu bertautan dengan sejarah, momentum, atau orang tertentu. Agan tertarik pada apa yang muncul saat ini, terkait dengan keseharian orang di jejaring sosial. Dia melihat, saat ini orang semakin tidak bisa membedakan mana maya, mana nyata. Pada akhirnya orang terjebak pada ilusi yang dibangun sendiri dan memanipulasi kehidupannya. Ini tidak hanya terkait dengan massifnya penggunaan jejaring sosial, tetapi pergeseran dalam fotografi itu sendiri. Saat ini, setiap orang bisa menjadi “fotografer”, merepresentasikan objek yang dikehendaki sekaligus menjadi (bagian dari) objek representasi itu sendiri. Jejaring sosial menjadi semacam “galerie” atau tempat objek fotonya dipajang dan diapresiasi.

Sejauh ini, baik Agan maupun Akbar belum menentukan soal isu apa yang akan ditampilkan pada proyek ini. Pun Rani dan Redi, yang meski sudah menentukan poin besar dari isu yang hendak direspon, bayangan yang lebih spesifik dari isu tersebut beserta bentuk artistiknya belum mereka tentukan. Proyek ini masih sangat terbuka dengan berbagai kemungkinan. Lagipula, saya juga merasa masih kurang eksploratif, baik itu dalam mengolah pertanyaan untuk kebutuhan saya sendiri, maupun untuk kepentingan kerja bersama kami di proyek ini. Saya merasa, apa yang saya lakukan masih belum lebih dari “wawancara ala wartawan”. Minggu terakhir di bulan ini kami akan bertemu dalam satu forum untuk memeriksa ulang dan mendialogkan hasil pembicaraan kami yang sebelumnya berlangsung secara terpisah. Peluang untuk mempertajam isu atau bahkan menemukan benang merah di proyek ini memungkinkan untuk kami eksplorasi pada sesi itu.