Proyek Seni di Fukutake House, Fukuda, Shodoshima, Jepang

HIGH WATER: Empat Seniman Dari Pulau Jawa

18 Juli 2015 - 03 November 2015

Elia Nurvista, Jompet Kuswidananto, Leonardiansyah Allenda, Yudha Sandy

{titlei}

Proyek Seni di Fukutake House, Fukuda, Shodoshima, Jepang
HIGH WATER: Empat Seniman Dari Pulau Jawa

Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dimana sebanyak 143 juta penduduk tinggal. Pulau Jawa termasuk pulau paling padat di dunia. Jakarta sebagai ibukota menjadi tuan rumah bagi pemerintah pusat sekaligus pusat perekonomian Indonesia, dimana pasar seni rupa mendominasi perkembangan kesenian. Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang secara historis merupakan pusat praktik kesenian tradisi dan sering kali dikaitkan dengan Kesultanan, tetapi juga terkenal lewat pergerakan gerilya melawan Belanda serta pergerakan politik kritis. Pendekatan kritis ini terpantul dalam kesenian melalui berbagai generasi seniman yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Jawa mendominasi Indonesia secara politik dan perekonomian, begitu juga secara kultural dan historis sebab sebagian besar sejarah Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Ketika kerajaan Hindu-Budha didirikan di seluruh wilayah nusantara, Kesultanan Islam telah mapan dan Jawa pada saat itu menjadi inti dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebagian besar peristiwa pergolakan yang berlokasi di Jawa, misalnya perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia (1930 – 1949) dan demonstrasi-demonstrasi melawan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Sejak lima belas tahun belakangan, para akademisi, aktivis dan seniman dengan berhati-hati menggali sejarah masa lalu, membawa kisah-kisah yang tidak diceritakan ke permukaan.

Empat seniman Indonesia yang kami tampilkan dalam pameran ‘High Water’ juga mencerminkan sejarah rakyat Indonesia, dimana masing-masing seniman menggarisbawahi aspek yang berbeda dari masa lalu dan masa kini. Menarik ketika melihat bahwa khususnya seniman-seniman muda ini tertarik untuk mengeksplorasi kisaran luas dari isu-isu sejarah Indonesia dalam rangka untuk memahami perkembangan terkini di dalam masyarakat. Melalui karya mereka, seniman-seniman muda ini dengan jujur merespon dan sering kali mengkritisi fenomena sosial yang sangat spesifik sambil membawa suatu perspektif estetis ke dalam diskusi. Judul proyek seni ‘High Water’ mengacu pada suatu keadaan ‘waspada’, dengan gagasan bahwa para seniman sadar akan keadaan di sekitarnya dan mengubah masyarakat; seperti berdiri dalam banjir, dalam air pasang selama musim hujan. Para seniman responsif dalam membeberkan kenyataan dan insiden.  

Elia Nurvista
Grains from a Prosperous Land
2015

Saya lahir dan besar di pulau Jawa. Bagi kami, beras bukan sekedar makanan pokok, tetapi juga terkait dengan tradisi, spiritual, dan kepercayaan. Di masa kecil, saya sangat akrab dengan pemandangan padi di sawah, dan hamparan gabah yang dijemur di halaman rumah nenek. Kami tidak pernah membeli beras karena hasil panen selalu mencukupi kebutuhan pangan satu musim panen. Kami percaya bahwa dewi Sri, dewi kesuburan, akan memberkati kami dengan panen raya di sepanjang tahun. Selain itu, pemerintah juga menjanjikan kemakmuran melalui revolusi hijau. Dan sebagai puncaknya, Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1980-an.

Namun, pada akhirnya revolusi hijau memaksa tanah bekerja di luar batas kapasitas daya tanamnya. Kami mengambil terlalu banyak dari apa yang seharusnya. Tanah menjadi sekarat dan mandul, tak ada yang bisa dipetik dari sana. Akhirnya keluarga kami pun menjual sebagaian sawah, yang kemudian dialihfungsikan menjadi lahan mendirikan bangunan. Saat ini, maraknya beras impor dan bias polemik beras transgenik, serasa semakin memperlebar jarak antara kami dengan tradisi padi. Keintiman agraris kami dengan beras digantikan dengan keintiman terhadap karung-karung beras siap beli.  

Jompet Kuswidananto
Rehearsing Voices
2015

Sejak mengklaim demokrasi, tiap orang Indonesia menjadi termotivasi untuk mendefinisikan ulang hubungan antara diri sendiri dan yang lain-lain. Upaya untuk menarik batasan-batasan baru yang memisahkan ‘kamu’ dari ‘saya’ dan ‘kita’ dari ‘mereka’, telah menjadi sebuah masalah yang menonjol pada tahun-tahun terakhir direfleksikan, dibuktikan oleh berkembangbiaknya partai-partai politik, organisasi-organisasi sipil, dan friksi diantara mereka. Jompet melihat bagaimana demokrasi telah dilatih di Indonesia, melalui penemuan bentuk-bentuk yang bertindak untuk menarik kembali batasan-batasan baru yang memisahkan masyarakat.

Leonardiansyah Allenda
Private Number
2015

Benda dan nilainya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dalam karya ini, Leo  membuat semacam alat penyaring yang memisahkan keduanya, memperbesar jarak diantara benda dan nilainya, dengan mempermainkan prinsip keseimbangan dalam timbangan, menambahkan lapisan nilai pada berat benda dengan memori personal pemiliknya.

Leo tertarik dengan makna universal yang sifatnya objektif, pada fungsi dasar benda (semacam nilai ekstrinsik), juga ingatan personal akan bendatersebut (seperti nilai intrinsik), dalam konteks pameran ini, dia memanfaatkan kemungkinan tersebut. “Pada dasarnya kita dapat memaknai semua substansi sebagai sesuatu yang sama, misalnya mangkok untuk wadah makanan, namun maknanya bisa sungguh berbeda ketika mangkok dipergunakan di lingkungan budayatertentu”. Leo mengundang orang di sekitarnya, di Jawa dan di Fukuda untukterlibat langsung dalam karya ini, dengan mengumpulkan benda dan memorinya. Dengan cara itu dia membangun dialog di antara dua ruang sosial yang berbeda.

Berlatarbelakang pandangan di atas, karya ini mempertanyakan ulang arti menimbang atau mengukur yang biasa kita gunakan untuk mencari kesamaan.

Yudha Sandy
“Hardliner”
2015

“Atom Jardin”
2014

“Booming Chaos”
2015

Dalam karya ini saya mengambil inspirasi dari masa kecil saya dimana budaya pop selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan perkembangannya di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Saya memperhatikan budaya televisi. Ketika saya masih kecil, hanya ada satu saluran TV dan pada jam empat sore biasanya anak-anak yang sedang bermain di luar selalu pulang, buru-buru mandi, dan duduk di depan TV. Kami pulang ke rumah bukan karena dipanggil oleh orang tua, melainkan karena kami ingin menonton kartun.

Pada masa Orde Baru, di bawah pemerintahan Soeharto, TV digunakan sebagai propaganda, informasi yang masuk ke rumah tangga melalui televisi menunjukkan kisah-kisah keberhasilan dari pembangunan bangsa, transmigrasi, panenan dan ritual-ritual tradisional yang harus ditonton dengan kritis. Apa yang ditawarkan melalui televisi sering kali kontradiktif dengan kenyataan hidup pada masa itu.

Buntut dari era ini adalah kontradiksi mulai ditunjukkan secara terbuka. Pada tahun 1998, terjadilah reformasi dimana harapan dan kekacauan yang luar biasa terjadi serentak.

Kemudian, sepuluh tahun kemudian pada tahun 2008, dengan kebebasan berekspresi yang lebih besar dan ledakan di seni visual yang berdampak pada segala jenis perkembangan, sementara nilai-nilai kemudian menjadi kabur.