Choreographers' LAB: Fitri Setianingsih dan Elia Nurvista

Choreographers' LAB merupakan program residensi bagi koreografer Jerman dan Indonesia. Program ini adalah bagian dari Indonesia LAB, sebuah kolaborasi antara Goethe-Institut Indonesia dengan enam rekan dari Frankfurt LAB, antara lain Ensemble Modern, Künstlerhaus Mousonturm, Staatliche Hochschule für Bildende Künste - Städelschule and Portikus, Hessische Theaterakademie, Hochschule für Musik und Darstellende Kunst Frankfurt am Main dan the Dresden Frankfurt Dance Company. Program ini didukung oleh Kulturstiftung des Bundes dan KfW Stiftung.

Kencan buta merupakan titik awal bagi hubungan asmara yang menggairahkan. Bagi beberapa koreografer dan seniman visual dari Indonesia, mereka juga turut membentuk awal dari perjumpaan artistik yang tidak biasa. Dengan inisiatif Mousonturm dan Goethe-Institut Indonesia, mereka bertemu dan dipasangkan dengan seniman dari Jerman, yang sebelumnya tidak saling kenal. Selama beberapa bulan terakhir, program tersebut disertai dengan beberapa kali perjumpaan baik di Indonesia dan Jerman dimana duet seniman berbicara tentang karya mereka dan mengembangkan gagasan artistik bersama-sama. Mereka membahas bermacam bentuk tari dan juga kebiasaan sehari-hari yang berhubungan dengan makanan, atau gaya busana atau bahkan sesederhana menunggu bis atau kapal feri. Di Frankfurt, duet seniman ini membuka laboratorium koreografi mereka kepada publik untuk pertama kalinya dengan rangkaian pertunjukan, yang membebaskan pengunjung untuk terlibat dalam petualangan perjumpaan-perjumpaan mereka.

Salah satu peserta, Fitri Setyaningsih, selalu berkarya diantara koreografi, seni visual dan praktik budaya lainnya. Ia mengembangkan struktur koreografi dari teknik batik dan kostum yang terbuat dari botol-botol plastik yang menyelubungi penari layaknya patung. Fitri mempertajam bentuk pemikiran transgresif ini bersama dengan koleganya Nicola Mascia dari Berlin, yang juga merupakan partnernya dalam program Choreographers' LAB. Fitri dan Nicola memilih untuk mengambil ketertarikan bersama mereka sebagai titik awal perjumpaan dimana mereka mengeksplorasi tubuh, apa yang menyelubunginya dan ruang-ruang yang dihasilkannya. Berangkat dari titik lain, seniman visual dan peneliti makanan, Elia Nurvista, dan mantan penari Forsythe, Josh Johnson, memiliki ketertarikan yang kuat terhadap makanan. Bagi mereka, makanan bukan hanya tentang rasa dan selera yang bagus. Sesuai dengan motto "Kamu adalah apa yang kamu makan!", mereka malah menyelidiki kebiasaan makan orang Indonesia, Jerman dan Amerika, dan menjelajahi implikasi fisik dan sosio-politiknya.

Mari bergabung dalam perbincangan kami bersama bersama Fitri Setyaningsih dan Elia Nurvista pada hari Selasa, 15 Desember 2015 jam 19.00. Mereka berdua akan membagikan pengalaman kolaborasi mereka di Choreographers' LAB dan juga bercerita bagaimana akhirnya mereka bisa menciptakan sesuatu bersama dengan pasangan dari kencan buta dalam waktu singkat, diantara batasan jarak dan budaya.

Program ini adalah acara ketujuh dari German Season/Encounters - sebuah rangkaian diskusi yang disajikan di Rumah Seni Cemeti.

Program German Season merupakan inisiatif Kementrian Luar Negeri Jerman yang diadakan selama bulan September hingga Desember 2015, bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia, Kedutaan Besar Jerman di Jakarta dan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID) di kota-kota besar di Indonesia.

Informasi lebih lanjut silakan periksa laman ini: germanseason.com