Pasang Air #1 - Pameran & Presentasi Seniman

Melalui program residensi Pasang Air, Rumah Seni Cemeti bermaksud memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian pada proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Selama tiga bulan, tiga seniman dari tiga negara: Indonesia, Belanda, dan Taiwan diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.

Program residensi Pasang Air #1 diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti dan didukung oleh Asian Cultural Council (Taipei), Bamboo Curtain Studio (Taiwan), dan Centrum Beeldende Kunst Rotterdam (Belanda). Program residensi Pasang Air #1 berlangsung selama tiga bulan dari bulan September hingga November 2015 di Rumah Seni Cemeti.

Chen Chia-Jen

Melalui karyanya, Chen Chia-Jen ingin membicarakan situasi yang sering ia temui di kota-kota modern di berbagai negara. Sebagai orang asing yang selalu bepergian dan tinggal di sebuah tempat dalam waktu singkat, ia ingin membandingkan pengalamannya di tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Pada masa awal kedatangannya di Yogya, Chen terkesan dengan lanskap kota yang bersifat horisontal dimana tidak banyak gedung bertingkat sehingga langit terlihat jelas dimanapun. Mobilitas warga dan sistem lalu
lintas kota yang mengandalkan jalan darat di permukaan tanah pun melengkapi pengalaman horisontalnya.

Chen juga tertarik mengamati aktivitas warga yang tinggal di
pinggiran sungai di kota-kota besar dan sempat mengunjungi beberapa lintasan sungai di Yogya. Pada salah satu kunjungannya ke lintasan Kali Opak di sekitar Pantai Parangtritis, ia bertemu dengan beberapa warga setempat yang bekerja sebagai penambang pasir. Aktivitas para penambang pasir tersebut memancing rasa ingin tahunya terhadap apa yang terjadi di bawah air sungai. Hal tersebut mendorong fantasinya mengenai pasir sebagai sumber asli
dari kota. Pengalaman horisontalnya pun menemukan sebuah kontras ketika ia mengamati gerakan para penambang pasir yang melawan arus sungai. Berbagai temuan ini ia olah menjadi karya video dan akan disajikan dalam bentuk instalasi di ruang galeri.

Chen Chia-Jen (lahir di Yunlin, Taiwan) lulusan National Taiwan University of Arts, M.F.A. Ia adalah direktur di sebuah ruang seni bernama Open-Contemporary Art Center di Taipei. Ia juga mengajar di College of Fine Art di NTUA dan mengikuti program doktoral di jurusan Art & Technologies de l’image, University Paris 8. (http://chenchiajen.weebly.com/)

Eva Olthof

“Ia adalah pendaki pertama yang jatuh ke dalam kawah Gunung
Merapi. Dia jatuh ke dalam kawah saat mengambil selfie.”

Jakarta Post, 19 Mei 2015

Eva Olthof memulai masa berkaryanya dengan menginvestigasi sebuah kisah dari satu desa di Gunung Merapi dimana warganya dipaksa bertransmigrasi pada tahun 1960an. Tidak lama kemudian, banyak
warga yang kembali ke desa asalnya yang lokasinya saat itu telah dihapus dari peta resmi oleh pemerintah. Berangkat dari kisah ini, Olthof menjadi tertarik dengan imaji yang muncul dari simbol-simbol kewenangan yang terhubung dengan gunung berapi pada tingkatan ilmiah, spiritual, dan politis. Serangkaian material terpilih yang telah dikumpulkan akan dipresentasikan dalam sebuah bincang performatif pada malam pembukaan.

Eva Olthof (lahir di Nijmegen, 1983) adalah seniman visual yang tinggal di Rotterdam. Ia lulusan program MFA di the Dutch Art Institute, Arnhem. Bukunya yang berjudul “Return to Rightful Owner”, yang berangkat dari sejarah politis Perpustakaan Memorial Amerika di Berlin, belakangan ini diterbitkan oleh Onomatopee, sebuah ruang proyek dan penerbit di Eindhoven. Proyek terbarunya bertajuk www.archiveresonance.net juga diluncurkan tahun ini,
yakni sebuah arsip bertumbuh yang berisi kenangan para warga berkaitan dengan runtuhnya gedung Sejarah Arsip Kota di Cologne, Jerman pada 3 Maret 2009.
(http://www.evaolthof.nl/)

Yudha Kusuma Putera

Selama masa residensinya di Rumah Seni Cemeti, Yudha Kusuma Putera membuat dua proyek eksperimen yang melibatkan partisipan dari beragam usia dan latar belakang. Proyek eksperimen ini terinspirasi dari eksplorasinya mengenai hubungan sosial dan hubungan antar manusia yang telah menjadi ketertarikannya sejak dua tahun belakangan ini. Kedua proyek ini tidak berhubungan sama sekali meskipun bila disimak dengan seksama akan terlihat elemen-elemen yang saling terkait. Proyek eksperimen pertama melibatkan murid-murid TK Pertiwi Tamanan di Banguntapan, Bantul, dalam sebuah aktivitas menggambar bersama. Awalnya Yudha bermaksud menggunakan gambar yang dibuat para murid untuk direproduksi dan disimulasikan di ruang keluarga. Setelah melalui proses diskusi bersama dan beberapa kali pertemuan dengan guru dan orang tua murid, Yudha kemudian mengubah pendekatan berkaryanya dengan menggunakan gambar-gambar tersebut sebagai penghubung untuk masuk ke ruang personal anak-anak.

Proyek eksperimen kedua dilakukan di beberapa pembukaan pameran seni rupa di Yogya, baik pameran tunggal maupun pameran kelompok. Dalam hingar-bingar perayaan pameran seni rupa, pengunjung diasumsikan sebagai penonton pasif yang tidak memiliki suara. Dengan mengundang dan memasangkan dua orang pengunjung pameran
yang tidak saling kenal sebelumnya, Yudha meminta partisipan untuk saling berbincang dan memberikan komentar kritis mereka mengenai pameran sambil berkeliling melihat karya di ruang pamer.
Yudha Kusuma Putera (lahir di Magelang, 1987) adalah lulusan Fakultas Seni Media Rekam jurusan Fotografi di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Sejak tahun 2011, Yudha mulai bergabung dalam kolektif seniman bernama MES 56 yang berfokus pada perkembangan fotografi kontemporer di Indonesia.
(http://yudhafehung.weebly.com/)