What is On

Profil Rumah Seni Cemeti

Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41
Yogyakarta 55143 Indonesia

Tel/Fax +62 274 371 015
Hp +62 81 2273 3564
Email cemetiah@indosat.net.id
Website www.cemetiarthouse.com
  www.25years.cemetiarthouse.com

Rumah Seni Cemeti memiliki status hukum sebagai sebuah asosiasi.

Pengantar Singkat Organisasi
Sejak tahun 1988, Rumah Seni Cemeti yang didirikan oleh Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma telah memamerkan dan mengomunikasikan karya-karya seniman kontemporer Indonesia dan mancanegara.
Diawali dengan nama Galeri Cemeti pada tahun 1988, Rumah Seni Cemeti telah mempunyai banyak peran sebagai ruang pamer, pusat informasi, dokumentasi dan promosi bagi seni rupa. Pada tahun 1995 didirikan Yayasan Seni Cemeti untuk mengelola seluruh aspek kearsipan dan penelitian Seni Rupa. Belum lama ini Yayasan Seni Cemeti berganti nama menjadi IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Rumah Seni Cemeti dan IVAA kemudian bekerja sebagai dua organisasi yang terpisah, yang mempunyai visi dan anggaran masing-masing. Rumah Seni Cemeti mempunyai fokus pada pameran, proyek-proyek kesenian, residensi dan manajemen seni. Sedangkan IVAA mempunyai fokus pada dokumentasi, penelitian, pendidikan dan penyebaran informasi. Dua organisasi kami sering bekerja bersama dan keduanya telah memberikan kontribusi penting  pada wacana dan perkembangan seni rupa, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tujuan dan Arah Program Kerja
Rumah Seni Cemeti menaruh perhatian utama pada stimulasi praktik kerja kesenian, wacana dan manajemen seni. Seni kontemporer di Indonesia dapat dilihat sebagai bentuk, perhatian, pandangan dan refleksi dari seniman terhadap isu yang berkembang di masyarakat. Melalui karya mereka, seniman melakukan komentar dan penggambaran mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat, sedangkan orang lain mengekspresikan pendekatan personal ke dalam kehidupan masing-masing. Ide dan tema-tema ini kemudian diekspresikan melalui berbagai medium.

Pada tahun 2010, Rumah Seni Cemeti meluncurkan platform baru dimana kegiatan dan perhatiannya berkisar dan berpusat pada penciptaan kembali ‘Seni dan Masyarakat’, yang menekankan praktik seni alternatif yang lebih menghormati ‘proses’, ketimbang ‘promosi’.

Pameran dan Proyek Kesenian
Setiap tahun puluhan proyek telah diadakan; baik pameran di ruang galeri maupun proyek site specific, seperti pameran tunggal dan kelompok, performans, diskusi, presentasi dari program residensi dan artist talk yang melibatkan seniman, penulis, aktivis seni, kurator dan manajer, dari dalam maupun luar negeri. Pada 2005-2007 Rumah Seni Cemeti telah membimbing dan bekerja dengan kurator dan manajer seni dalam berbagai pameran dan kegiatan yang selalu mengangkat isu atau tema tertentu secara mendalam. Pada 2008-2009 kami mengadakan lebih banyak pameran tunggal karena ingin menempatkan fokus kembali pada perkembangan pemikiran dan visi individu, sebagai reaksi terhadap gemparan pasar seni dan dominasi pameran kelompok dimana seniman hanya mengikuti tema dan tuntutan kurator.

Artist talk, presentasi proyek dan pameran kelompok disajikan baik secara lokal maupun internasional, demikian juga dengan pameran bulanan yang dikuratori sendiri dan diadakan di galeri Rumah Seni Cemeti. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ‘ART OF BAMBOO’ pada 2002 (diikuti oleh seniman Indonesia dan Denmark), ‘CHOOSE YOUR OWN PUBLIC’ pada 2005 (diikuti oleh seniman Indonesia), ‘MASA LALU MASA LUPA’ (diikuti oleh seniman Indonesia) sebuah proyek pameran keliling di Den Haag, Amsterdam, Jakarta, Singapura, Semarang, dan Shanghai pada 2007.

Pengembangan Komunitas
Dalam usahanya untuk mencari dan mengembangkan wacana di bidang seni rupa, Rumah Seni Cemeti tidak hanya bekerja sama sebagai platform untuk perkembangan terkini dengan mengadakan pameran, diskusi, lokakarya/workshop, dsb, tetapi juga merangsang dan memfasilitasi proyek-proyek tertentu dengan menghubungkan seniman kepada kalangan ahli lainnya serta komunitas tertentu (di Yogyakarta dan sekitarnya). Beberapa program telah dikembangkan oleh Rumah Seni Cemeti bagi masyarakat di daerah tertentu, bekerja sama dengan seniman kontemporer. Perupa kontemporer dari seluruh Indonesia yang peduli pada pengembangan masyarakat turut ambil bagian dalam program ini, seperti pos program bantuan paska gempa bumi yang diselenggarakan dari Mei 2007 sampai Mei 2008 yang didukung oleh Ford Foundation.

Residensi Seniman, Kurator/Penulis/Peneliti Seni
Pada tahun 2006 Rumah Seni Cemeti memulai program residensi berkolaborasi dengan Heden-Den Haag dan didukung oleh Kedutaan Besar Belanda, yaitu 'Landing Soon'. Dalam tiga tahun (2006-2009) 'Landing Soon' menggabungkan seniman Belanda dan Indonesia dalam satu program selama tiga bulan per periodenya.

Mengikuti kesuksesan program ‘Landing Soon’, mulai bulan Oktober 2010, Rumah Seni Cemeti meluncurkan program residensi terbaru bertajuk 'HotWave'. Program residensi ini melibatkan tiga seniman dari tiga negara yang berbeda selama kurun waktu tiga bulan. Pada setiap akhir masa periode residensi diadakan sebuah pameran dan presentasi hasil karya seniman selama residensi.  Selain program 'Landing Soon' dan 'HotWave', kami juga menjadi tuan rumah seniman residensi lain yang didukung oleh Asian Cultural Council (New York), API (Tokyo), Asialink (Melbourne), dan FONDS BKVB. Kami juga membuka kesempatan bagi seniman atau peneliti untuk melakukan residensi independen di Rumah Seni Cemeti.

Mulai tahun 2011 hingga 2013, Rumah Seni Cemeti membuka dua residensi setiap tahun bagi para kurator, penulis, atau peneliti seni dari dalam dan luar Indonesia. Kurator, penulis, atau peneliti seni diberi kesempatan memperluas wacana mereka tentang dunia seni rupa di Yogyakarta. Rumah Seni Cemeti yang memiliki jaringan luas menjadi hub dan sumber data untuk proses penelitian. Peserta residensi juga diminta mengadakan workshop, kuliah publik, atau diskusi sebagai bagian dari riset yang juga menyumbangkan ruang untuk berdialog dan berpartisipasi demi kemajuan wacana seni rupa.

Melalui berbagai program residensi tersebut, Rumah Seni Cemeti bermaksud memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian untuk proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Partisipan residensi diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.

Program Edukasi Manajemen Seni
Hal yang paling mendesak yang dihadapi oleh lingkungan kebudayaan di Indonesia adalah kurangnya sumber daya manusia dalam bidang manajemen, sejarah seni, kritik dan jurnalisme seni. Rumah Seni Cemeti mengelola proyek manajemen seni untuk merangsang kesadaran dan wawasan mengenai seni lewat program magang atau pembangunan kapasitas bagi manajer dan kurator seni. Sejak Mei 2004 hingga Mei 2007 Rumah Seni Cemeti membuat proyek yang memonitor dan mengawal anak-anak muda menjadi manajer artistik-operasional dan kurator. Karena rendahnya infrastruktur seni di Indonesia, kami mempunyai peran yang cukup besar dalam pelatihan kurator dan manajer kesenian, dalam rangka mengembangkan pengetahuan seni secara profesional. Proyek tiga tahun tersebut didukung oleh Prince Claus Fund, Belanda.

Sejak tahun 2000 kami juga bekerja bersama KELOLA untuk menjadi tuan rumah program magang dengan periode tiga bulan setiap tahunnya. Kami melihat program ini sebagai hal yang penting untuk meneruskan program manajemen seni kami, dengan penekanan pada pentingnya regenerasi pekerja seni profesional. Hingga saat ini Rumah Seni Cemeti menjadi salah satu dari sedikit ruang seni rupa profesional dan berkelanjutan di Indonesia, yang menawarkan proses pembelajaran yang menyeluruh bagi para peserta magang.

Program Kemasyarakatan
Kehadiran publik kurang lebih sebanyak 400 orang di setiap pameran/proyek yang kami adakan. Melalui kontak jaringan di luar kota Yogyakarta, lebih dari 4000 organisasi dan individu mengikuti perkembangan dan program-program kami setiap bulannya. Masyarakat setempat di Indonesia serta masyarakat internasional masih berada di bawah pengaruh dominan dari sistem pasar global dari produksi dan konsumsi. Untuk itulah kontribusi seni menjadi sangat penting sebagai sistem alternatif. Meskipun Indonesia masih miskin infrastruktur seni (seperti kurangnya museum seni modern dan kontemporer yang mapan), seniman dan pekerja seni menyumbang semangat yang luar biasa bagi perkembangan seni. Pekerja kreatif mencari alternatif dan melihat berbagai pandangan ke depan dari peran seni di masyarakat dan mengomunikasikan hal tersebut ke masyarakat. Bagi kami, seni bukan hanya mengenai produksi obyek untuk dipamerkan, tetapi untuk menciptakan dan mengelola aktivitas dimana publik menjadi bagian yang aktif.

Penghargaan

2014 Anugerah Adhikarya Rupa, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Indonesia
2010
Yogyakarta Biennale Art Award
2008 Academic Art Award #2, Jogja Gallery/Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
2006 John D. Rockefeller 3rd Award, New York, Amerika Serikat